Selasa, 23 April 2013

KEMBALI PADA SEJARAH

Ilustrasi
Keberadaan kita hari in adalah buukti terbentuknya dari perjalanan yang telah kita tempuh kemaren, sehingga apa yang menjadi hasil dari hari ini pun adalah refleksi dari berlalunya hari kemaren. Banyak yang mengatakan bahwa, hari ini adalah bentuk dari hari yang datang pada waktu lalu, bukan hari esok ataupun lusa. Dan tidak mungkin kitadapat berdiri sendiri tanpa ada tangan orang lain disekitar kita, tentunya. Katakan saja orang tua kita dan sebagainya. Nah pada kali ini sengaja akan saya sampaikan beberapa hal yang tidak banyak tentang orang-orang yang telah bersejarah membentuk serta menjadikan kita seperti saat sekarang ini.
Orang yang melahirkan kita kedunia adalah sosok yanag sangat berjasa akan kelahiran kita. Akan tetapi lebih lanjut, terdapat beberapa orang yang sangat berjasa terhadap keberadaan kita sekarang ini, yaitu adalah para pejuang atau para pahlawan. Keberadaan mereka memang secara tidak kita sadari hanya menjadi catatan sejarah yang dipelajari dikelas-kelas saja, dan kita tidak pernah memperdulikan aka perjuangan yang telah mereka lakukan. Memang betul, ketika kita mengenang mereka tidak akan memberikan pengaruh apa-apa kepada para pahlawan, utamanya bagi para pejuang yang telah memberikan tanah air yang kita duduki dengan nyaman.
Mengenang atau Kenangan?
Bagi sebagian orang yang mempunyai kepentingan, momen hari pahlawan ini adalah ladang untuk berkarya, dan berusaha untuk menjadikan kedepan lebih baik lagi. Misalnya dengan mengadakan refleksi perjuangan yang kongkret dikehidupan yang kita jalani. Bukan hanya sekedar berwacana dibalik layar saja, yang hanya bisa mengkritik dan tidak bisa memberikan solusi tepat. Ada yang bilang kita bisa mengawali langkah kita untuk mengenag pahlawan dengan mempertahankana apa yang telah diwariskan kepada kita. Contoh yang nyata adalah dengan menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar. Hal ini mungkin terdengn sepele akan tetapi tiak jarang warna negara indonesia sendiri telah lupa bahkan meninggalkan bahasa persatuan yang telah diproklamirkan oleh sejumlah pemuda pada waktu sumpah pemuda.
 Seharusnya
Banyak hal perlu kita lakukan dalam memperingati hari pahlawan ini, diantanya adalah dengan bersikap positif dan bekerja keras untuk membantu perkembngan serta kemajuan Indonesia raya yang tercinta. Setidaknya hal ini yang kita tanamkan pada diri kita pribadi tanpa melihat terlebih dahulu apakah hal teresebut sudah dikerjakan orang lain atau tidak. Dan hal ini pula patut kita jadikan pedoman dalam bertindak. Siapa yang tidak mau bersikap baik dan bertingkah laku dengan baik pula?. Tentu jawabannya adalah orang yang tidak mempunyai hati nurani serta tidak mempunyai keinginan untuk merubah kehidupannya kedepan menjadi yang lebih baik lagi. Dan akhirnya kita kembali juga pada sejarah. Para pahlawan yang telah mendahului kita bertekat untuk merubah kehidupan Indonesia terbebas dari penjajahan, dan dengan tujuan yang mulia tersebut mereka tidak pernah berharap untuk dikenang dan bahkan tidak pula meminta dijadikan sebagai kenangan. Kita sebagai warna Negara yang baik wajib meneladani apa yang telah diberikan para pejuang kepada kita. Tekat bulat, persatuan dan kesatuan harus mampu menjadi fondasi yang kuat untuk bias berubah dan bebas dari kehidupan yang menyengsarakan.

PROFESIONALISME GURU, MENENTUKAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

Pendahuluan
Setiap orang pasti menginginkan sebuah pendidikan yang baik dan mapan demi menghadapi hidup kedepan. Karena tidak bisa dipungkiri, dengan pendidikan yang baik orang akan bisa menjalani hidup dengan baik pula. Sebaliknya jika orang mendapatkan pendidikan yang kurang baik, terkesan tidak terurus maka orang tersebut bisa saja hidup dalam kegelapan yang akan menghatui sepanjang hidupnya.
Dapat dibandingkan antara orang yang mempunyai pendidikan dengan orang yang kurang berpendidikan. Terkesan hidup yang dijalani oleh orang yang berpendidikan atau katakan saja orang yang memiliki ilmu akan menjalani kehidupan dengan penuh terencana. Dan kebalikannya, orang yang kurang berpendidikan secara otomatis dapat dikatakan akan menjalani kehidupan dan penyelesaiannya tidak dengan akal akan tetapi dengan otot.
Untuk selanjutnya, kedudukan pendidikan yang matang akan sangat dirasa perlu dan penting, karena pendidikan akan sangat dirasa dan dapat diamati dengan mata kita maju dan tidaknya.
Pengertian
Guru professional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik. Dalam mengajar diperlkan keterampila-keterampilan yang dibutuhkan untuk kelancaran proses belajar-mengajar antara lain; 1) mebuka dan menutup pelajaran, 2) mejelaskan,3) bertanya dan menjawab, 4) member penguatan, 5) menggunakan media pembeljaran, 6) membimbing diskusi kelompok kecil, 7) mengelola kelas, 8) mengaadakan variasi, 9) mengajar perorangan dan kelompok kecil. ( Saud, 2010: 55 ).
Guru adalah penentu masa depan anak bangsa. Di tangan gurulah pencerdasan anak negeri ( Isjoni, 2008: 39 ). Damin ( 2006: 183 ) mengatakan bahwa guru professional adalah guru yang bertugas sebagai ujung tombak pembangun manusia untuk memiliki norma-norma hidup dan bertaqwa tinggi. Peran dari seorang guru sangatlah penting, karena dari tangan seorang gurulah kehidupan peserta didik akan terarah atau juga tidak. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru sebagai penentu dan membentuk kepribadian perserta didik.
Guru akan mengarahkan pada kehidupan yang bermakna da penuh dengan arti yang sesungguhnya kehidupan. Tidak mungkin pendidik mengarahkan pada hal yang kkurang baik atau juga mengarahkan pada hal yang tidak berguna untuk kehidupannya. Nilai-nilai yang akan tercipta dari tingkah dan perilaku peserta didik akan mampu ia tunjukkan dengan baik ketika seorang pendidik mampu mengarahkannya dengan baik.
Cerminan Seorang Guru Profesianal
Guru adalah satu pemegang peran penting dalam dunia pendidikan dipandang dari sektor maupun dari tenga pendidik ( guru ) mempunyai peran aktif dalam menjalankan roda pendidikan. Kalau bisa ( penulis ) sedikit meminjam pendapat yang di keluarkan oleh Harsall, bahwa guru merupakan ujung tombak dari proses belajar siswa. Karena hal itu mempengaruhi mereka bagaimana siswa memandang seorang guru tidak hanya bertugas memberikan pelajaran tetapi harus bisa memberikan pengajaran.
Kepribadian seorang guru diyakini akan mampu memberiakn motivasi atau motor penggerak dalam memningkatkan prestasi (Jamaluddin) dengan menunjukkn bahwa seorang guru memberikan perhatian dan memberikan semangat kepad pserta didiknya sedangkan Musaheri sendiri, seorang guru hendaknya memiliki kepribadian yang mantap stabil dewasa arif berwibawa, dan berakhlak mlia sehingga nantinya akan menjadi teladan serta panutan siswa dengan sendirinya pun akan memiliki rasa hormat, simpati, keperayaan, semangat, member perhatian yang di tunjukkan dengan keseriusan dalam pembelajaran-pembelajaran yang akan diberikan.
Melihat betapa pentingnya seorang guru dalam sistem pendidikan, namun hal itu tidak trlepas dari tujuan UU nomer 14 tahun 2005. Sedangkan dalam konteks yang sama dalam pasal 3 UU tentang pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan akademis siswa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mercerdaskan kehidupan bangsa dengan tujuan meningkatkan potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada tuhan yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri untuk menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.
Sebagaimana yang telah dikatakan dalam buku pengantar pendidikan musaheri, guru yang memposisikan dirinya pada lini terdepan akan sangat mempengaruhi kenajuan serta mundurnya sebuah pendidikan. Karena beban yang dipikuloleh seorang guru sangatlah bersenruhan sekali dengan peserta didik. Dengan pemahamannya tentang akademisi peserta didik dengan tujuan ideal untuk menjadikan pendidikan yang diembannya harus mampu menjadi media untuk menjadikan ana didik sebagai manusia yang seutuhnya.
Profesionalisme Guru Menentukan Peningkatan Mutu Pendidikan
Pendidikan, hal ini setiap hari dan bahkan sampai kapanpun akan hangat serta selalu menjadi perbincangan yang patut kit cari solusinya guna kemajuan Negara kita Indonesia. Karena tidak mungkin Negara bisa maju ataupun berkembang tanpa didukung dengan adaya kualitas masyarakat atau penduduknya. Masyarakat juga tidak akan mampu menjadi masyarakat yang berkualitas tanpa disokong dengan adanya peididkan yang mapan serta mampu mencetak dan membawa sebuah perubahan yang baik sesaui dengan keinginan masyarakat, bangsa, Negara san agama.
Untuk mengembangkan kompetensi pendidikan yang mampu menjawab tantangan global dan keiginan-keinginan diatas, maka perlu dilakukan dengan sesegera mungkin yaitu dengan adanya pengangkatan mutu sumber daya lulusan pendidikan serta kebiakan dari pemerintah yang diantaranya adalah : pertama, memperbaiki sumber daya manusia, sarana dan prasarana, biaya, struktur organisasi, metodologi, mekanisme atau sistem evaluasi. Kedua, tujuan yang meliputi kognetif, afektif, dan psikomotoriknya. Ketiga, pendekatan integrated dalam menyajikan pelajarn kepada anak didik, keempat, metodologi dan tehnik. Kelima, system evaluasi. Keenam, sekolah kejujuran. Ketujuh, persepsi yang sama antara kabupaten/ kota. Kedelapan, pembenahan manejeman pendidikan di setiap jenis dan level pendidikan, serta kesembilan, pembentukan Character Building. Pada masing-masing personel pendidikan ( isjoni, 2007 : 78-80 ). Kesepuluh, kurikulum yang diharapkan pendidikan pada pendidikan harus bisa menjamin keterkaitan antara subjek didik dengan lingkungan sehingga potensi pesrta didik nantinya mampu menjadi agen pembaharuan bagi masyarakat.
Peningkatan mutu pendidikan tidak terlepas dari peran seorang guru karena gurulah yang memegang peran sentral dalam proses pembelajaran. Guru yang profesional akan mampu menghasilkan peserta didik yang bermutu. maka kemudian siswa yang bermutu akan mampu mengangkat mutu pendidikan. Garis besarnya adalah untuk dapat mewujudkan pendidikan yang bermutu pula,maka sangat diperlukan tenaga pengajar atau guru-guru yang profesional. Seperti gambaran yang telah dilontarkan oleh Isjoni ( 2007 : 84-85 ) ada lima hal yang perlu dilkukan oleh seorang guru. Dan kelima hal tersebut dirangkum dalam sebuah pemahaman tentang guru masa depan yaitu adalah guru yang bisa menjadi fasilitator, pelindung, pembimbing, dan punya figure yang baik, kreatif, melayani sesuai dengan visi dan misi, menguasai materi, kelas, dan teknologi, serta mempunyai ciri khas.
Seorang guru harus memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didiknya melalui pemahaman, keaktifan pembelajaran yang sesuai dengan kemajuan jaman. Serta dapat menumbuh-kembangkan sikap disipllin, bertanggung jawab, memiliki etika moral, dan memiliki sikap kepedulian yang tinggi terhadap sesama dan makhluk lainnya.
Terkait dengan keprofesionalitas seorang guru, PGRI seharusnya menfasilitasi angota-anggotanya untuk menuju hal tersebut ( Barizi dan Idris, 2009 : 156 ). Hal tersebut juga nantinya akan mampu mengangkat mutu dari sebuah pendidikan, karena dalam PGRI sendiri ada program-program yang khusus disusun guna menunjang keguruannya yang sudah barang tentu sesuai dengai dengan kemauan atau kebutuhan pengembangan diri seorang guru yang profesional dan al-hasil akan bisa membawa kemajuan dibidang pendidikan itu sendiri. Hal ini senada dengan apa yang telah disampaikan oleh Musaheri ( 2011 ; 29 )yang melihat pada misi jati diri dari PGRI itu sendiri yang merupakan suatu wahana untuk menampilkan citra, sikap, semangat dan karakter organisasi keguruan yang mampu melestarikan nilai-nilai perjuangan dan profesi keguruan.
Profesional guru diharapkan jangan hanya diapandang pada arah keguruannya saja. Akan tetapi lebih pada keprofesionalitas seorang guru. Namun kebanyakan profesi guru hanya dipandang pada sudut perspektif ekkomonis saja, sehinggamenyebabkan tidaka mengindahkan pada posisi  awal yang dipegang oleh guru. Kita bisa melihat banyak contoh yang terjadi pada saat ini, atau contoh lain kebanyakan guru yang kerjanya hanya membolos, tidak mementingkan tugas utamanya yang disandang yaitu sebagai tenaga pengajar dan juga sebagai fasilitator pembelajaran.
Selanjutnya, seorang guru hendaknya bisa merancang pembelajaran dengan kurikulum-kurikulum yang berkaitan dengan kompetensi peserta didik. Dengan pemahamannya tentang karakteristk peserta didik yang ditandai dengan perkembanagan kognitif, kepribadian, dan kompetensinya. Pemahaman pada teori-teori yang akan disampaikan dengan pemberian mmateri ajar yang sesuai dengan kurikulum yang ada. Pelaksanaan pembelajaran dengan mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada untuk menunjang pembelajaran serta pemanfaatan lingkungan sebagai bagian dari proses bembekalan.
Mengevaluasi hasil dari pembelajaran dengan melihat kemampuan peserta didik dalam menangkap hasil belajar yang diasamapikan, materi-materi tes, akhlak serta keaktifan peserta didik dan keseriusan peserta didik dalam menerima pembelajaran yang telah diberikan oleh seorang guru.
Tahap akhir dari seorang guru yaitu dengan mengembangakan segala potensi yang telah dimilikinya untuk diterapkan dalam lingkkungan sekolah, keluarga dan masyarakat denga membuktikan adanya kreatifitas dalam mengembangkan bakat serta minatnya.
Kesimpulan
“Tak ada rotan akarpun jadi”.
Bisa saja pepatah diatas sangat bertalian dengan keadan atau posisi guru pada saat ini, untuk menjadi seorang guru yang professional tidak harus memberikan pembelajaran yang mengandalkan sumber atau alat pembelajaran yang mewah. Sebetulnya dengan alat-alat yang sederhana serta sumber belajar yang cukup memadai yang sesuai dengan pembelajaran yang akan dihadapi oleh peserta didik adalah merupakan sikap dari guru yang profesional. Karena tidak mengkin juga pembelajran yang berlangsung jauh dari kemajuan kota atau boleh dikatakan masih berda dipinggiran akan sam kondisi pembelajrannya dengan kondisi pembelajaran yang berada didaerah maju ( kota/ kabupaten dan sebagainya ).
Dengan organisasi PGRI diharapkan mampu mewujudkan guru yang profesional yang bisa mendaya gunakan seluruh kemampuannya untuk mencurahkan pada minat serta bakat peserta didik untuk lebih dikembangkan agar pendidikan bisa dikuasai serta pendidikan itu sendiri akan mampu menduduki kemajuan tersebut.
Diaharapkan dengan organisasi PGRI, baik yang berada dikota ataupun dikecamatan atau didaerah-daerah terpencil sekalipun dapat menghasilkan dan membina pendidik yang profesional. Seorang guru yang profesional harus mampu memberikan kontribusi yang aktif terhadap pendidikan peserta didik untuk lebih menopang hidupnya agar lebih baik dan terarah. Maka mutu pendidikan akan berada pada posisi yang paling tinggi. Imbasnya Negara Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata, karena dulu kita menampung banyak pelajar dari luar dan dengan hadirnya guru-guru atau tenaga pendidik yang professional bisa mengembalikan hal tersebut.

KEBUDAYAAN “TANEAN LANJHANG”

Madura adalah salah satu pulau yang terdiri dari beberapa pulau yang mengelilinginya, dan madura terdiri dari empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Sedangkan pada kabupaten Sumenep sendiri terdiri dari kurang lebih 125 pulang yang berada dikawan kabupaten tersebut. Pulau-pulau tersebut adalah Raas, Poteran, Sepudi, Kangean dan masih banyak lagi diantaranya.
Banyak kebudayaan yang ada di Sumenep, diantaranya adalah Nyadar, Ojung dan juga beberapa peninggalan bersejarah yang menjadi daya tarik wisata lokal maupun nasional untuk mengunjunginya. Salah satu yang merupakan kebudayaan lokal dari peninggalan sejarah adalah kebudayaan “Tanean Lanjhang”. Dan kebudayaan ini adalah kebudayaan yang asli dari Sumenep.
Tanean Lanjhang (Halaman Panjang) adalah Permukiman tradisional Madura adalah suatu kumpulan rumah yang terdiri atas keluargakeluarga yang mengikatnya. Letaknya sangat berdekatan dengan lahan garapan, mata air atau sungai. Antara permukiman dengan lahan garapan hanya dibatasi tanaman hidup atau peninggian tanah yang disebut galengan atau tabun, sehingga masing-masing kelompok menjadi terpisah oleh lahan garapannya. Satu kelompok rumah terdiri atas 2 sampai 10 rumah, atau dihuni sepuluh keluarga yaitu keluarga batih yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit dan seterusnya. Jadi hubungan keluarga kandung merupakan ciri khas dari kelompok ini[1]
Yang paling menarik dari kebudayaan bangunan ini adalah posisi rumah yang berjejer memanjang sebanyak orang yang tinggal dilingkungan tersebut, dan keberadaan orang-orang tersebut masih berada dalamm satu keluarga yang utuh. Biasanya sanak saudara yang tinggal dalam satu kelompok tersebut sengaja tidak dipisahkan oleh para orang tua mereka atau saudara-saudara mereka sendiri untuk lebih menguatkan rasa dan keterikatan emosional mereka. Dari kondisi tersebut sebenarnya digunakan untuk mencari penghidupan yang baik, sebab dari tata letaknya tidak jauh dari lahan dan sugar atau sumber air lainnya.
Arah dari letak bangunan ini mengarah ke selatan dan utara, sedangkan Tanean Lanjhang tersebut membujur dari barat-timur. Arah tersebut menentukan usia tua atau muda, biasanya usia yang telah lebih matang (para orang tua) berada disebelah barat dari keberadaan tanean lanjhang tersebut. Sedangkan para anak muda biasanya berada diujung timur Tanean Lanjhang itu sendiri.
Ada juga hal yang terunik dari segi bangunan Tanean Lanjhang, selain dari bentuknya yang berupa rumah joglo (rumah bangsal dll), cungkup atap bangunan juga menyiratkan bahwa yang tinggal di dalamnya adalah membedakan antara jenis misalnya perempuan atau laki-laki. Hal tersebut bisa dilihat dari bentuk cungkupnya. Laki-laki biasanya berbentuk cungkup yang menyeruapi bentuk tanduk, sedangkan bentuk cungkup bangunan dari perempuan adalah berbentuk cungkup biasa.
Terbentuknya permukiman tradisional Madura (tanean lanjhang) diawali dengan sebuah rumah induk yang disebut dengan tonghuh. Tonghuh adalah rumah cikal bakal atau leluhur suatu keluarga. Tonghuh dilengkapi dengan langgar, kandang, dan dapur. Apabila sebuah keluarga memiliki anak yang berumah tangga, khususnya anak perempuan, maka orang tua akan mempunyai keharusan untuk membuatkan rumah bagi anak perempuan.  Para orang tua dari anak perempuan biasanya menerima atau dalam artian suami yang harus ikut kerumah sang istri. Ssecara tidak langsung orang tua dari perempuan harus mempersiapkan tempat untuk menantu mereka nantinya.
Penempatan rumah untuk anak perempuan berada pada posisi di sebelah timurnya. Kelompok pemukiman yang demikian disebut pamengkang, demikian juga bila generasi berikutnya telah menempati maka akan terbentuk koren dan sampai tanean lanjang. Susunan demikian terus menerus berkembang dari masa ke masa. Dan akan sedikit menekan pergerakan kelompok lain di luar keluarga mereka untuk memasuki area tanean lanjhang ini. Pola permukiman seperti ini mengakibatkan tersebarnya sebuah kelompok-kelompok keluarga, sehingga akan menjadikan sebuah kelompok-kelompok kecil didaerah tertentu.
Apabila susunan ini terlalu panjang maka susunan berubah menjadi berhadapan. Urutan susunan rumah tetap dimulai dari ujung barat kemudian berakhir di ujung timur. Pertimbangan ini dikaitkan dengan terbatasnya lahan garapan, sehingga sebisa mungkin tidak mengurangi lahan garapan yang ada. Jadi, untuk melacak satu alur keturunan dapat dilacak melalui susunan penghuni rumahnya. Generasi terpanjang dapat dilihat sampai dengan 5 generasi yaitu di tanean lanjang. Posisi tonghuh selalu ada di ujung barat sesudah langgar. Langgar selalu berada di ujung barat sebagai akhiran masa bangunan yang ada. Susunan rumah tersebut selalu berorientasi utara-selatan. halaman di tengah inilah yang disebut tanean lanjhang.


[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Tanean_Lanjhang (diambil hari Jum’at tanggal 23 Nopember 2012 pada pukul  08:34

SAPE SONO'

Di desa Lentang termasuk salah satu desa yang melestarikan budaya sape sono’, akhir-akhir ini semakin bertambah minat masyarakat yang memelihara sape sono’. Di lenteng  terdapat dua paguyuban sape sono’ yaitu joko tole dan potre koneng, tempat atau lapangan sape sono’ laskar joko tole dan potre koneng tidak jauh, kedua lapangan tersebut berdekatan.
Menurut salah seorang anggota paguyuban sape sono’ Jokotole sape sono yang bernama H.Rifin yang berasal dari paguyuban Jokotole mengatakan bahwa sape sono’ berasal dari Madura dan identik dengan Madura seperti halnya kerapan sape.  Akan tetapi berbeda halnya dengan kerapan sapi, dalam kerapan sapi  menggunakan sapi jantan, sedangkan sape sono’ menggunakan sapi betina. Perbe-daannyapun terdapat pada segi penilaian. misalnya kalau dalam lomba kerapan Sapi yang dinilai kekuatan, kecekatan, kecepatan, kepiawaian untuk menjadi tercepat dan terdepan, sedangkan sape sonok dinilai dari  keindahan tampilannya, kelembutan dan gerakan lemah gemulai sepasang sapi betina,serta kepiawaian ketika masuk gapura /gawang dan berhenti kira-kira lima menit di papan yang sudah disediakan dibawah gapura.
Pada mulanya antraksi Sapi Sono’ dilakukan oleh para petani pasca panen untuk mengisi waktu senggang, akan tetapi dewasa ini sape sonok dilakukan tidak hanya pada musim panen, sape sono’ sering diadakan sesuai iven tertentu, hal ini sering dilaksanakan karena melihat budaya ini tidak membahayakan. Selain melatih sapi di rumahnya, setiap anggota paguyuban joko tole  mengadakan latihan rutin setiap dua minggu sekali yang tepatnya pada hari sabtu.
Hal ini dilakukan untuk mempererat persahabatan antar anggota paguyuban serta untuk melatih sapi-sapinya di lapangan. sepasang sapi Sono’ ini dilatih mengelilingi lapangan dengan iringan musik Saronen.
Ciri-ciri sape sono’ yang cantik adalah bentuk badan yang bagus, panjang, gemuk, kepala agak memanjang, dan bulunya agak merah. Jika memenuhi semua kriteria maka harga sapi betina akan mahal yang mulanya hanya lima juta bisa 10x lipat. Jarang masyarakat di desa lenteng yang memelihara sape sonok karena harganya yang mahal, anakan sapi sono’ harganya bisa mencapai 3x lipat dari harga anakan sapi biasa yag biasanya 1.500.000 bisa jadi 4.500.000. selain harganya mahal biaya pemeliharaannya pun sulit serta membutuhkan perlakuan yang khusus serta latian yang khusus agar sapi ter-sebut cantik dan sesuai dengan criteria.
Penyelenggaraan atraksi sapi Sono’, dibagi dalam dua kategori. Kategori pertama dalam bentuk kontes, dan bentuk aduan. Dalam bentuk kontes, penilaian ditekankan pada keelokan sapi, lenggak-lenggok sapi pada saat berjalan serta aksesoris yang menghisi badan sapi. Kontes ini diadakan untuk menghibur para penonton sekaligus sekedar melepas kegembiraan, terutama para pemilik sapi. Penyelenggaraan kedua adalah bentuk aduan, bertujuan untuk memperebutkan kejuaraan. Dalam aduan ini ada aturan-aturan serta syarat-syarat yang  telah menjadi kesepakatan dalam bentuk aturan tak tertulis.


AJIYAN (NGAJI) MAKAM

Ajiyan Makam merupakan salah satu ritual yang dimiliki masyarakat Madura. Di desa Lenteng Barat Kabupaten Sumenep Madura, ada salah satu bentuk ritual yang disebut dengan Ajiyan Makam yaitu mengunjungi makam (bukuran) untuk mengaji bersama-sama. Masyarakat Lenteng Barat masih mempertahankan dengan baik dan sangat kental dengan budaya dan ritual yang ada dan masih menjungjung tinggi nilai budaya yang diturunkan oleh leluhur mereka. Ajiyan Makam dalam bahasa Indonesia berarti “Mengaji di Makam”. Tapi dalam ritual tersebut bukan hanya mengaji tetapi ada hal yang berbeda dan unik yang dapat dijumpai dalam Ajiyan Makam tersebut. Yang mana hal itu dilakukan bersama-sama sehingga suasananya ramai oleh hampir semua masyarakat sekitar yang familinya dimakamkan disana.
Ritual tersebut biasanya dilakukan pada bulan Syawal tepatnya pada hari jumat manis atau jumat kliwon dan dimulai setelah ba’da ashar. Dilakukan pada bulan syawal karena mereka mempercayai bulan tersebut merupakan bulan yang baik dalam melakukan sesuatu, dan dipilih hari jumat manis atau jumat kliwon karena mereka juga mempercayai pada hari itu roh leluhur mereka kembali atau datang menemui keluarganya. Dengan adanya Ajiyan Makam merupakan salah satu bentuk silaturahmi mengingat leluhur mereka terdahulu.
Hal lain yang unik dalam Ajiyan Makam yaitu tiap keluar membawa makanan yang berupa nasi, ketan, kue, bubur hitam, singkong rebus bahkan ada juga singkong bakar. Semua makanan itu makan yang biasa dimakan masyarakat sekitar pada zaman dulu yang nantinya makanan itu dimakan bersama-sama. Tidak lupa juga mereka membawa sesajen pada masing-masing makam leluhurnya yaitu berupa nasi warna-warni, kembang, dan jajan pasar atau disebut “ jajan genna” yang dibungkus atau ditempatkan pada “taker” yaitu daun pisang yang dibentuk menyerupai temapt nasi kecil.
Ajiyan makam dimulai dengan membaca surat Yasin lalu dilanjut dengan tahlil dan doa bersama, dan yang terakhir yang itu ada sebuah ceramah atau musyawarah kecil yang biasanya dipimpin oleh tokoh masyarakat disana, kegiatan tersebut hanya dilakukan oleh laki-laki sedangkan perempuan menyiapkan hidangan yang akan disajikan. Setelah acara penjajian selesai semua warga yang hadir makan bersama.

RAMPATAN; MAKNA DIBALIK LIMA WARNA

Sumenep sangat kaya dengan kebudayaan dan ritual-ritual kebudayaannya, seperti Nyadar, Rokat dan lain sebagainya. Hal ini masih menunjukkan masyarakat Sumenep tidak bisa lepas dan meninggalkan adat kebiasaan nenek moyang atau leluhur pendahulu mereka. Sampai saat ini kebiasaan-kebiasaan yang masih ada dan masih dilestarikan oleh masyarakat Sumenep dapat dijumpai dimana-mana.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut yang masih ada adalah Rokat, Nyadar dan lain sebagainya. Dan pelaksanaan dari beberapa kebudayaan ritual diatas juga berbeda ada yang digunakan atau dilaksanakan pada satu tahun sekali, pada hari ke-8 setelah ada keluarga yang meninggal dan pada hari-hari biasa.
Ritual-ritual yang ada biasa tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan sesajen (dalam pemahaman masyarakat Sumenep adalah sedekah dan lain-lain). Bentuk dan macamnya juga cukup beragam. Ada yang menggunakan potongan kepala sapi, ketupat, buah pinang dan masih banyak pula yang lain untuk sesajen tersebut. Bentuk dari sesajen ini juga tergantung dari bentuk upacarA yang dilakukan, misalnya ritual nyadar, dalam upacara tersebut harus menggunakan potongan kepala sapi untuk selanjutnya dilarung “ketengah segara” (tengah laut). Proses tersebut dinamakan dengan seserahan, yaitu mengantarkan potongan kepala sapi ketengah laut. Keberadaan sesajen ini tidak terlepas dari pengaruh kepercayaan pada agama budha. Karena di dalam agama budha sangat sarat sekali dengan adanya sesajen ini. Setiap hari penganut agama buda biasanya melakukan ritual yang menggunakan sesajen. Akan tetapi lambat laun seiring dengan berjalannya waktu keberadaan sesajen ini kemudian diubah menjadi satu bentuk yang bernilai yaitu bukan lagi berupa sesajen akan tetapi sedekah (pemahaman penganut islam). Sunan Bonang adalah perintis sesajen yang dulunya hanya dibuang-buang kemudian berkat beliau sesajen tidak lantas dibuang akan tetapi dengan adanya sesajen ini diserahkan pada sanak saudara, tetangga, orang yang kurang mampu dan sebagainya.
Lain proses ritualnya, maka lain pula sesajennya. Ada salah satu bentuk kepercayaan yang berkembang dimasyarakat tentang rejeki. Jika ada ma-syarakat sulit untuk mendapatkan rejeki, maka kemudian menggunakan media ritual yang disebut dengan Rampatan. Ritual ini biasa tidak mengundang orang atau tetangga, akan tetapi dalam prosesi ritual tersebut cukup dengan orang yang akan melakukan ritualnya saja dan tidak membutuhkan bantuan orang lain.
Dalam ritual rampatan ini, sebagaimana yang telah dikatakan oleh K. Hosnan yang juga merupakan salah satu pengasepuh di Desa Muncek Timur mengatakan dengan hanya meletakkan lima macam bubur dengan lima warna. Kelima warna tersebut akan menunjukkan posisi matahari dan sinarnya. Warna kuning biasanya diletakkan disebelah barat, warna puith diletakkan dibagian timur, warna hitam terletak disebelah utara dan selatan diletakkan warna merah. Sedangkan untuk bubur yang terakhir dengan warna biru ditelakkan pada posisi sentral yaitu ditengah-tengah dari keempat bubur yang ada.
Dari kelima posisi tersebut menyimbulkan makna tentang rejeki. Rejeki yang ada disemua penjuru mata angin yang disimbulkan dengan warna-warna tadi adalah sebagai penanda datangnya rejeki tersebut. Dari empat titik mata angin tersebut selanjutnya akan digiring atau diarahkan kesentral yaitu pada posisi bubur yang berwarna biru. Hal tersebut mengandung sebuah pe-maknaan bahwasanya rejeki yang datang dari penjuru tersebut akan berkumpul menjadi satu ditengah-tengah bubur biru. Dan keberadaan bubur biru tersebut memberikan sebuah makna yaitu orang yang meletakkan bubur. Dan nantinya rejeki yang berada ditimur, barat, selatan dan utara akan berkumpul pada orang yang telah meletakkan bubur tersebut.









UPACARA SANDOR

Sejak zaman dahulu tradisi budaya sudah ada pada zaman para nabi dan rosu,l bahkan berbaur dan hidup berdampingan dengan agama. Setiap Negara pasti mempunyai budaya dan tradisi ma-sing- masing, apalagi Indonesia yang terkenal dengan budaya dan bahkan wisata.
Sebelum agama islam dianut oleh masyarakat agama lain sudah ada di Indonesia seperti halnya Hindu dan Budha. Salah satu desa di Padangdangan yang sekarang mulai berkembang berpacu seiring dengan perkembangan zaman pada sebagian meno-ritas masih ada yang yang menganut kepercayaan pada pemujaan atau upacara yang di anggap perlu dan sakral.
Salah satunya tradisi sandor yang masih di percaya oleh sebagian kalangan mino-ritas dapat mendatangkan hu-jan menolak bara bahaya dan memudahkan rezeki. Upacara sandor di lakukan apabila terjadi kemarau panjang dan di percaya dapat menurunkan hujan dan juga kalau ada salah satu dari keluarga yang sakit tak wajar ( kesurupan ) upacara sandor pasti di lakukan. Upacara sandor di lakukan di tempat – tempat yang di ang-gap kramat dan di percaya ada penunggunya salah satunya puju’ bindang dan pohon be-sar yang sudah hidup puluhan tahun.
Sandor merupakan upacara yang wajib di lakukan bagi warga yang mempercayai, katerangan dari sesepuh di desa tersebut mengatakan pa-da saat melakukan upacara sandor ada kekuatan gaib yang bersatu pada raga mereka salah satunya adalah Pak Sanatun yang sebelumnya tidak kuat berjalan dan bahkan berhenti beraktivitas juga yang nyaris lumpuh setelah mendengar nyanyian dan tarian sandor tersebut juga bisa ikut menari dan berjalan sebagaimana orang yang tidak terkena penyakit atau normal.
Upacara sandor yang berbau mistis tersebut dapat membuat orang yang melakukan upacara lupa diri dan apabila tidak mengikuti dan melakukan upacara sandor bisa sakit dan selalu mendapat musibah. Acara pemujaan sandor bagi sebagian masyarakat merupakan satu keharusan yang harus di lakukan. Anutan dari kepercayaan Hindu tersebut masih melekat dan di percaya membawa manfaat bagi sebagian orang yang melakukan dan mempercayainya. Walaupun bertentangan dengan agama yang di anut akan tetapi yang na-manya budaya itu harus di lestarikan seperti halnya Upacara sandor.

OJUNG; BENTUK KEANEKARAGAMAN BUDAYA DI SUMENEP

Di pulau Madura terdabat banyak kebudayaan, salah satunya ojung / ojhung, suatu bentuk tradisi yang cenderung mengarah pada bentuk ritual, meski dengan cara kekerasan dan melukai. Tradisi untuk me-minta turun hujan, ojung bia-sanya dilaksanakan tiap tahun. Menerut p.jailani salah satu war-ga rubaru mengatakan bahwa ojung biasanya dilaksanakan pa-da musim kemarau. Tradisi ojung identik degan kekerasan, meskipun budaya ojung identik dengan kekerasan akan tetapi. ,
pada dasarnya untuk menjalin tali silaturrahim dan  untuk men-cipta kekerabatan yang lebih dekat antar, saudara.  Wandi  yaitu salah seorang masyarakat rubaru khususnya dusun mam-bang berpendapat bahwa ojung diadakan setahun sekali tepatya seminggu dari pertama turunnya hujan, budaya ini untuk meminta atau memohon kepada pencipta alam agar buminya diberi keberkatan dan mendapatkan hasil bumi yang mlimpah, serta pertanian dijauhkan dari hama. Tapi ojung juga dilaksanakan apabila kemarau panjang.
            Dikecamatan rubaru yang melaksanakan budaya ojung ha-nya di dusun mambang, dan ritualnya pun ada perbedaan dengan ojung di daerah lain, seni ojung dilakukan oleh dua orang pemain yang ditengahi oleh se-orang wasit. setiap pemain memiliki senjata yang terbuat dari rotan yang panjangnya ku-rang lebih satu meter. Para pemain juga menggunakan pelindung kepala berbentuk ke-rucut yang terbuat dari karung goni. Di dalam bukho’ di-lengkapi dengan kerangka dari sabut buah  kelapa,karung goni juga digunakan sebagai pelin-dung badan  dan di sampingnya dipakai sebilah kayu yang berfungsi membelokkan pukulan yang mengarah ke wajah. Sungguh sangat unik tradisi ojung maka kita sebagai generasi muda jangan merasa malu untuk terlibat dalam kebudayaan, kita harus melestarikan budaya yang ada di desa kita

           

RITUAL DUDUS

Madura sangat dikenal dengan pulau yang kaya dan kental akan adat istiadat, adat istiadat di madura sampai sekarang masih dijunjung tinggi apa lagi di daerah-daerah pelosok masih banyak mitos-mitos keper-cayaan, bahkan upacara-upacara adat yang masih dilakukan di zaman yang keren yang dikenal sebagai era globalisasi ini.
Budaya yang ada di madura sangat beraneka ragam dan masih dilestarikan sam-pai saat ini meski jaman sudah modern oleh penerusnya (katakan saja; masyarakat Len-teng Barat). Menurut orang madura yang masih tinggal di pelosok yang masih sangat menjunjung tinggi dan melestarikan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang tetap dilakukan untuk beberapa hal, diantaranya adalah dengan keparcayaan untuk melakukan ritual ini dinilai sebagai sarana untuk mendapatkan keselamatan.
Di sumenep yaitu  kabupaten yang letaknya berada paling ujung timur pulau madura ada banyak ritual, diantaranya Dudus (red. keramas), Dalam tradisi Madura, ritual Dudus ini diyakini dapat memberikan kesa-lamatan bagi orang  yang diDudus. Dudus dipraktekkan kepada seorang anak laki-laki  yang sendirian atau yang tidak  punya sanak saudara laki-laki lagi atau lazim disebut anak tunggal. Ritual tersebut diyakini oleh. Masyarakat Lenteng Barat bisa membuat seseorang lebih mandiri. Mereka tidak lagi bergantung kepada saudari-saudarinya atau keluarganya yang lain.
Hal yang diperlukan dalam ritual Du-dus yaitu kain kafan, dan orang  yang akan melakukan ritual ini (yang akan didudus) harus memakai kain kafan, dan menggunakan tongkat yang mana tongkat itu diletakkan tusukan serabi, ritual Dudus diawali dengan acara pengajian dan doa-doa yang ditujukan pada orang yang diDudus dan dipimpin oleh oleh orang ahli , dan kemudian orang yang di Dudus tersebut dimandikan kembang tujuh rupa. Hal ini sesuai dengan petunjuk dari orang ahli, seperti Pak jazuli yang sudah ahli melakukan ritual ini selama bertahun-tahun.
Adapun orang yang memandikannya merupakan keluarga dari orang tersebut de-ngan syarat sebelum memandikan orang yang diDudus tersebut mereka harus memberi uang koin atau melempar uang ke tempat bak air yang  tercampur bunga tujuh rupa ter-sebut. Setelah pemandian berakhir kemudian orang yang diDudus tersebut berjalan dari rumahnya ke tempat dangdang atau pertigaan jalan.
  Segala prosesi ini harus dilakukan oleh orang yang di dudus, karena jika ada satu proses yang tertinggal maka proses dudusan-nya tidak sah dan perlu diulang. Demikian juga dengan perlengkapan yang diperlukan dalam proses tersebut harus ada dan tidak boleh dikurangi.

RITUAL DAN SESAJEN

Jangan heran jika kita sering menjumpai orang atau seke-lompok orang yang sedang ber-kumpul untuk berdo’a dan memohon satu hal yang sangat kuat pengaruhnya bagi mereka, karena seiring berjalannya waktu tidak mampu menghapus kebia-saan-kebiasaan yang pernah dila-kukan oleh leluhur. Seperti hal-nya ritual, sering kali dijumpai pada masyarakat Sumenep, be-berapa hal yang ada kaitannya dengan acara-acara besar atau hajatan masih menggunakan ja-lan  tersebut sebagai jalan kese-lamatan dan kesuksesan acara.
Kalau dilihat dari tumbuhnya ri-tual tersebut memang bukan berasal dari Sumenep, mun-culnya ritual dan sesajen ini adalah dari penganut agama atau kepercayaan pada sang widi (hindu). Hal ini memang berangkat dari kebiasaan dari nenek moyang yang percaya akan adanya roh. Kepercayaan pada roh tersebut mempunyai beberapa sebutan, seperti animisme, dina-misme dan atheisme.
Kebiasaan dalam melakukan ritual ini banyak berkembang da-lam kawasan jawa, karena hal tersebut juga merupakan penga-ruh dari kercayaan yang ada dan kemudian dengan adanya penga-ruh agama Islam. Agama yang dibawa oleh para wali juga mem-berikan pengaruh penting bagi tumbuh dan berkembangnya ri-tual dan sesajen ini. Para wali yang melihat fenomina tersebut bukan lantas memberantas kebi-asaan atau kebudayaan yang telah ada dan tumbuh subur dimasyarakat. Akan tetapi kebiasaan yang menghambur-ham-burkan sesuatu (katakan saja makanan, karena dalam hal ini mengupas tentang sesajen) se-lanjutnya diarahkan untuk tidak dibuang dengan percuma. Para wali kemudian mengarahkan ma-syarakat untuk memberikan ma-kanan yang biasanya selalu hadir dalam bentuki kemasan yang be-rupa sesajen ini pada tetangga atau orang disekitarnya. Sedikit mengubah eksistensi dari sesajen tersebut, dari yang awalnya di-buang kemudian diberikasan atau disedekahkan.
Acara penting dan sakral biasa tidak bisa dilepas dari sesajen ini, seperti pernikahan, dan acar sla-metan biasanya menggunakan sesajen, rokat (ruwetan) misal-nya, sesajen selalu hadir dite-ngah-tengah acara tersebut. Bisa dikatan, jika tidak ada sesajen acara yang akan dilangsungkan kurang lengkap dan bisa saj aca-ra yang akan dilangsungkan tersebut akan gagal untuk dilaksanakan. Bentuk dari sesajen ini tergantung dari acara yang akan dilangsungkan, seperti halnya acara rokat maka sesajen yang harus ada adalah buah kelapa, buah pinang, ketupat, jarum, daun sirih, dan ayam.
Semua komponen diatas harus lengkap dan tidak boleh kurang satupun dari beberapa hal yang telah ada. Karena  semua komponen tersebut mempunyai simbol dan pemaknaan yang berbeda dan keberadaanyapun akan melengkapi dari acara yang akan berlangsung.
Sumenep yang termasuk dalam kawasan jawa juga tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan ter-sebut. Ritual dan sesajen masih berada digarda terdepan dalam pelaksanaan hajatan atau acara-acara penting.  Dalam acara per-nikahan harus menyiapkan satu nampan beras dan satu telur yang diletakkan diatasnya, kemudian harus menyalakan damar kambang sebagai alat untuk mengetahui sukses atau tidaknya acara tersebut. Ke-biasaan ini akan teruus berlanjut seiring dengan kemajuan tek-nologi. Karena keberadaan ritual dan sesajen ini bukan hanya se-mata-mata bentuk ritual saja akan tetapi ada nilai yang harus ada dalam pelaksanaan tersebut.